27
Jan
08

Membesuk 3 Pelaku Bom Bali

   
 
 
ImageBerbaur dengan Warga Lapas Hanya saat Salat JumatBersama pengacara Tim Pembela Muslim, wartawan koran ini berkesempatan bertemu tiga terpidana mati kasus bom Bali di Lapas Batu, Nusakambangan. Bagaimana mereka mengisi hari-hari menjelang eksekusi? Laporan Farouk Arnaz, CilacapRona air muka mereka bersih. Tak terlihat bayang ketakutan terpancar pada wajah Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas. Harum minyak wangi khas Arab menyeruak di ruangan ukuran 6 x 8 meter di Lapas Batu, Nusakambangan. Kami, para pembesuk yang datang dari Semarang, Solo, dan Jakarta diterima mereka bertiga sambil duduk lesehan.

’’Alhamdullilah, keadaan kami di sini baik-baik saja. Wajah kami bersih? Itu kan karena kami bukan koruptor, ya lain toh,” kata Amrozy spontan dengan senyum khas (smiling face)-nya.

Tak berapa lama Amrozi kemudian tampak ’’ngambek’’ saat hendak diwawancarai dua reporter TV yang ikut rombongan kami. Alasannya, dia khawatir pernyataannya dipelintir dan dipotong seperti kejadian sebelumnya. Dia merujuk pada tayangan sebuah TV swasta yang diberi label eksklusif –diambil diam-diam– beberapa saat lalu.Melihat itu, koordinator Tim Pembela Muslim Achmad Michdan yang duduk di dekatnya membujuk Amrozy agar mau diwawancarai. Dia akhirnya luluh dan menjawab pertanyaan wartawan TV tersebut sekenanya.Menurut Amrozi, saat itu dirinya dikutip TV dan mengatakan ’’…menyesal mengebom di Bali.’’ Menurut dia, kalimatnya saat itu dipotong. Sebab, seharusnya, ’’…menyesal mengebom di Bali karena korbannya 200. Kurang banyak itu. Seribu gitu loh,’’ katanya, lalu tertawa.

Meski sebagian besar korbannya warga sipil, Samudra, Muklas, dan Amrozi meyakini tindakannya mengebom di Bali adalah bagian dari jihad. Karena itu, dia sama sekali tak menyesal. ’’Soal korban yang muslim, saya sudah bayar dengan berpuasa kifarat (denda) selama dua bulan penuh. Itu sekarang urusan saya dengan Allah,’’ tambahnya.

Permintaan untuk tidak memelintir ucapannya juga disampaikan Samudra saat diwawancarai TV. Hanya, Samudra tidak alergi disorot kamera seperti Amrozy. Bahkan, dia dan Mukhlas sempat diwawancarai dalam bahasa Arab (salah satu kru TV yang ikut dari jaringan Al Jazeera). Keduanya bisa menjawab dengan lancar.

’’Tapi, jangan sampai jadi cutting paper, lalu memojokkan kaum muslim,’’ kata Samudra yang tetap memasang wajah serius meski kini sudah sering tersenyum. Dia mengaku pada malam sebelumnya mimpi dikerumuni orang. ’’Ternyata kedatangan wartawan,’’ katanya.

Entah guyon atau serius, sebelum kedatangan tamu dia sering dapat firasat lewat mimpi. ’’Jika saya mimpi didatangi tikus atau monyet, artinya ada tamu dari Mabes (Polri),’’ sambungnya. ’’Jangan dipelintir ya, nanti tak untir,’’ begitu pula kata Mukhlas, lalu tersenyum.

Mukhlas ternyata rajin baca koran. Buktinya, dia tahu bahwa Jawa Pos (grup Radar Lampung) pada Agustus 2005 pernah meliput ke rumahnya yang sederhana di Johor Bahru, Malaysia. ’’Oh itu Anda toh. Bagaimana, disambut baik kan?’’ tambah lulusan Akademi Mujahiddin Afghanistan itu.

Pertemuan Kamis lalu memang tak diikuti keluarga-keluarga mereka. Istri Amrozy di Lamongan, istri Samudra di Banten, dan istri Mukhlas di Malaysia. Makanya, mereka punya waktu panjang untuk melayani pertanyaan wartawan. Sebagian besar pembesuk yang datang kemarin adalah keluarga Subur Sugiarto (kasus bom Bali II), Beni Irawan, dan Agung Setyadi. Dua nama terakhir terkait pemberian laptop untuk Samudra dan situs teroris.

Adakah yang berubah belakangan ini menjelang pelaksanaan eksekusi? Amrozi mengatakan tidak. Hari-harinya tetap seperti sebelumnya. Dia tetap melaksanakan puasa sunah Nabi Daud. Satu hari puasa satu hari tidak. Dia selalu tidur pukul 21.00 dan bangun dini hari pukul 01.00 untuk salat sunah yang diteruskan hingga menjelang subuh.

Setelah subuh hingga pukul 07.00 ruangan di depan sel mereka dibuka. Kesempatan itu mereka lakukan untuk olahraga. Pukul 07.00-09.00 mereka kembali dikunci di dalam sel. Setelah itu, pukul 09.00 hingga 16.00, pintu sel dibuka lagi. Mereka bisa kembali beraktivitas secara terbatas. Begitu seterusnya.

Saat bebas, ketiga terpidana mati itu memang tidak berbaur dengan napi lain, termasuk sesama narapidana bom Bali. Ketiganya hanya bisa berkumpul dengan napi lain saat salat Jumat. ’’Bendinone podho karo wong liyo, cuma bedane ditahan ae (Setiap hari sama dengan orang lain. Bedanya cuma karena ditahan),’’ sambungnya.

Samudra menjelaskan, di antara waktu-waktu itulah dirinya mengisi hari-hari dengan mengulang-ulang hafalan Alquran, mengulang kitab-kitab milik ulama dahulu, membuat catatan dan tulisan, serta –seperti Amrozy–mengalami berbagai pengalaman spiritual.

Misalnya, mendengar sapaan assalamualaikum berulang-ulang, tapi saat diteliti tak ada seseorang pun. Demikian juga, menemukan rontokan rambut panjang milik perempuan di bawah tempat duduk, padahal tak ada perempuan yang masuk di sana. ’’Itu mungkin jin muslim,’’ tambahnya.

Jika hari eksekusi datang, Anda ingin dikenang sebagai apa? Samudra menarik napas. ’’Jangan dikenang. Lupakan saya. Saya hanya laksanakan firman Allah.’’ Pemilik nama Kudama itu juga meminta supaya tak ada yang menangis –mungkin yang dimaksud anak istrinya– saat tubuhnya terbujur kaku di liang lahat. ’’Firman Allah, kami ini hanya secuil debu. Kami bukan selebriti,’’ tambahnya. (*)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Disclaimer

This blog consists of external links only. I'm not responsible of any file and content as they are not under my control. Links and contents are not checked. All downloads are under your responsability.

online

anda pengunjung ke

  • 256,032 pengunjung
January 2008
M T W T F S S
    Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
My Popularity (by popuri.us) KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

join

Earn $$ with WidgetBucks!

Media


%d bloggers like this: